Ajaran Luhur dari Tembang Macapat, Puisi Tradisional Jawa

1444 views

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sanjak akhir yang disebut guru lagu.

Tembang Macapat merupakan karya adiluhung para pujangga Jawa. Selain memiliki paugeran yang sangat indah dalam bentuk guru lagu, guru wilangan dan sebagainya, tembang macapat juga mengandung ajaran luhur yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pada mulanya, tembang macapat selalu dialunkan dalam setiap momentum yang bersifat ritual dan sakral.

gamelan jawa musik

rumahseni2.net

Sekitar 30 sampai 40 tahun lalu, tembang macapat juga masih sering dilantunkan pada saat tirakatan atau jagongan bayi lahir. Di antaranya Kidung yang diuntai dalam bentuk tembang Dhandhanggula, sedangkan kalau untuk tolak bala bayi yang menangis terus-menerus biasanya dilantunkan tembang Kinanthi seperti: Pitik tulak pitik tukung, tetulake jabang bayi, ngedohaken cacing racak, sarap sawan pan sumingkir, si tukung mengungkung arsa, tinulak bali ing margi.

Macapat Jawa adalah puisi yang bait-baitnya ditulis berdasarkan metrum tertentu. Setiap metrum mempunyai ketentuan tersendiri dalam hal:

  • Guru gatra : Jumlah baris dalam setiap bait;
  • Guru wilangan : Jumlah suku kata dalam setiap baris;
  • Guru lagu : Vokal dalam suku kata terakhir setiap baris.

Dalam kesusastraan Jawa, ada sejumlah metrum yang sudah umum digunakan. Selain aturan yang telah dipaparkan di atas, setiap jenis metrum juga mempunyai lagu tersendiri. Oleh karena itu, metrum-metrum tersebut juga disebut tembang atau sekar macapat. Kata macapat sendiri juga dapat diartikan sebagai teknik membaca puisi dengan cara dilagukan. Sekar macapat yang dikenal dalam sastra Jawa adalah sebagai berikut:

Sekar Macapat Alit / Asli:

  1. Mijil    (dengarkan lagunya, klik disini)
  2. Sinom    (dengarkan lagunya, klik disini)
  3. Dandanggula    (dengarkan lagunya, klik disini)
  4. Kinanthi    (dengarkan lagunya, klik disini)
  5. Asmarandana    (dengarkan lagunya, klik disini)
  6. Durma    (dengarkan lagunya, klik disini)
  7. Pangkur    (dengarkan lagunya, klik disini)
  8. Maskumambang    (dengarkan lagunya, klik disini)
  9. Pucung    (dengarkan lagunya, klik disini)

Sekar Macapat Tengahan:

  1. Jurudemung    (dengarkan lagunya, klik disini)
  2. Wirangrong    (dengarkan lagunya, klik disini)
  3. Balabak    
  4. Gambuh    (dengarkan lagunya, klik disini)
  5. Megatruh utawa Dhudhukwuluh    (dengarkan lagunya, klik disini)

Sekar Macapat Ageng:

  1. Girisa    (dengarkan lagunya, klik disini)

Sekar macapat juga digunakan dalam penulisan serat-serat Jawa, umpamanya Serat Wedatama, Serat Sabdajati, dan Serat Wulangreh. Bagian karya yang ditulis dalam bentuk sekar macapat tertentu disebut pupuh. Sebagai contoh: Serat Wedatama Pupuh Sinom: Serat Wedatama Pupuh Megatruh, dsb. Pupuh setara dengan bab dalam buku.

Sekar Macapat

Guru gatra

Guru wilangan

Guru lagu

Mijil 6 10, 6, 10, 10, 6, 6 i, o, e, i, i ,u
Sinom 9 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 a, i, a, i, i, u ,a ,i, a
Dandanggula 10 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7 i, a, e, u, i, a, u ,a ,i, a
Kinanthi 6 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 u, i, a, i, a, i
Marandana 7 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 a, i, e, a, a, u, a
Durma 7 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7 a, i, a, a, i, a, i
Pangkur 7 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8 a, i, u, a, u, a, i
Maskumambang 4 12, 6, 8, 8 i, a, i, a, a
Pocung 4 12, 6, 8, 12 u, a, i, a
Jurudhemung 7 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 a, u, u, a, u, a, u
Wirangrong 6 8, 8, 10, 6, 7, 8 i, o, u, i, a, a
Balabak 6 12, 3, 12, 3, 12, 3 a, e, a, e, u, e
Gambuh 5 7, 10, 12, 8, 8 u, u, i, u, o
Megatruh 4 12, 8, 8, 8 u, i, u, i, o
Girisa 8 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 a, a, a, a, a, a, a, a

Kalau "dionceki" atau dikupas, sebenarnya ada sembilan (9) tembang macapat yang merupakan perlambang" babahan sanga" (tahapan) kehidupan manusia, dari Mijil (lahir) sampai Pocung (meninggal atau dipocong). Namun juga harus diakui bahwa oncek-oncek seperti ini sering disebut hanyalah othak-athik gathuk.

Terlepas dari anggapan tersebut, para pujangga winasis kita memang telah meninggalkan ajaran luhur lewat tembang macapat. Mijil sudah jelas berarti lahir atau 'metu' (saka guwa garbane sang ibu). Dhandhanggula berasal dari kata 'dhandhang' yang berarti cita-cita atau gegadhangan dan gula yang berarti manis. Dengan demikian dapat kita artikan bahwa tembang Dhandhanggula merupakan ungkapan cita-cita orangtua kepada anaknya yang baru saja lahir, sehingga sang ibu selalu tak henti-hentinya ngudang bayinya supaya kelak menjadi manungsa utama sing migunani tumrap bangsa, nagara lan agama.

Kinanti dapat diartikan bahwa ketika bayi sudah mulai mengenal benda dan alam sekitarnya maka bayi tersebut harus selalu dikanthi atau didampingi oleh orang tua, sampai si anak benar-benar dapat mengerti berbagai benda yang membahayakan dirinya. Biasanya ketika bayi mulai memasuki tahapan ini ditandai dengan ritual tedhak siten. Tahapan berikutnya adalah si anak mengetahui hal-hal baik dan buruk, memasuki masa remaja dan bertingkah laku sebagai bocah enom atau menjadi si enom. Pada tahapan ini anak mulai mengenal tata cara hidup yang besus (macak rapi) dan kemudian mengenal asmara. Kemudian ada tembang Asmarandana, disusul kemudian Gambuh yang berarti keluargane tambah. Yakni tambah menantu, disusul tambah cucu.

Tembang Pangkur menggambarkan tahapan manusia yang sudah mingkur kadonyan atau mulai memikirkan hari akhir, golek dalan padhang, karena usia sudah mulai tua dan sudah punya cucu. Sampai akhirnya memasuki masa ajal atau megat ruh, yang kira-kira sama dengan tembang Megatruh. Tahapan paling akhir kehidupan manusia adalah Pocung, yaitu bila sudah meninggal dan dipocong (dibungkus kain mori) dan kemudian dimasukkan liang kubur.

---

Jangan lewatkan: Fakta dan Mitos Malam 1 Suro dalam Tradisi di Tanah Jawa


loading...

Darmo Waspodo
Wong tuwo yang nggak mau dianggap tuwo, meskipun takdir dan kenyataan tak bisa dilawan...