Mitos Pantangan Menikah atau Hajatan Masyarakat Jawa di Bulan suro

Larangan menikah di bulan muharram

Menurut kepercayaan masyarakat khususnya di tanah jawa kebanyakan menganggap bulan Muharram adalah bulan yang paling dilarang untuk mengadakan acara yang bersifat sakral, seperti pernikahan, sunatan dan lain sebagainya. Mereka menganggap, orang yang melanggar mitos ini akan tertimpa sial. Bahkan ada yang mendefiniskan, orang yang menikah di bulan suro maka salah satu akan mati. Ini adalah mitos yang bertolak belakang dengan dasar agama Islam yang mereka anut.

pengantin paes ageng jogja

Menikah di bulan suro secara islam, bulan ini adalah bulan yang sangat mulia. Ada dua hal mengapa bulan pertama dalam kalender Hijriyah ini dimuliakan. Pertama, karena disandarkannya nama bulan ini kepada Allah (syahrullah). Kedua, karena bulan ini termasuk salah satu dari keempat bulan yang termasuk dalam Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia). Keempat bulan mulia ini ada yang berurutan (sard), yaitu: Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram sedang yang satu sendirian ( fard) yaitu: Rajab.

Pantangan menikah di bulan muharram menurut islam

“Suro” seperti nama- nama bulan jawa yang lain berasal dari bahasa arab ”Asyuro”. Asyuro berasal dari kata Asyara atau Asyrah yang seperti sepuluh. Asyuro merupakan hari yang ke sepuluh Muharam. Ada yang mengatakan bahwa hari itu merupakan saat mulia yang kesepuluh dari sepuluh saat yang di muliayan Allah (sembilan lainnya adala bulan Rajab,Sya’ban, Ramadhan, Malam Qodar, Hari fitri, hari-hari Asyar, hari arafah, hari-hari nahr dan hari jum’at). Ada yang mengatakan karena pada hari Asyuro itu terjadi peristiwa penting dalam kehidupan 10 Nabi Allah. Umat Islam sendiri menyambut bulan Muharam (suro) sebagai tahun awal baru Hijiriyah. Dari hari Asyuro-nya (tanggal 10 Muharan ) melakukan puasa karena ada riwayat yang mengatakan bahwa Rosulullah saw berpuasa pada hari itu.

Kalau ada kepercayaan yang menganggap bulan suro itu bulan “gawat” atau bulan “sial” mungkin ada kaitanya dengan tragedi Sayyidina Husein bin Ali cs yang terjadi pada bulan Asyuro dibulan Muharam. Dalam khazanah kitab kuning sendiri, ada juga pendapat yang menghubung-hubungkan puasa Asyuro dengan musibah Husein tersebut.

Tentang adanya anggapan bahwa bulan suro bulan “seram”, orang memandikan pusaka keris dan lain-lain serta menghindari hajatan pernikahan dan lain-lain pada hari itu tidak ada dasar yang jelas. Kalau benar bulan suro itu bulan “gawat” kasiahan orang jawa karena mempunyai bulan suro hanya orang jawa. Pendapat yang mengatakan bahwa pernikahan bulan Muraham dapat membawa sial adalah pendapat yang sama sekali tidak ada landasannya dalam agama. Menurut islam, bulan Muharan adalah salah satu dari empat bulan haram yang di muliakan Allah. Nabi SAW menamakannya dengan bulan Allah sebagai penghormatan terhadap – Nya.

hajatan masyarakat

Pada bulan ini seyogyanya manusia bergembira sehingga tidak melarang pernikahan pada bulan itu. Hendaklah mereka membersihkan diri dari kepercayaan yang salah sebagai warisan Bani Fatimiyah yang akstrim di Mesir. Mereka menjadikan bulan muharam sebagai bulan duka cita dan ratapan. Mereka jahui semua hal yang dapat mendatangkan kesenangan dan kegembiraan, diantaranya adalah perkawinan.

Menurut islam pernikahan dapat di laksanakan pada semua bulan dan semua hari. Perkawinan perlu di sambut gembira karena merupakan salah satu syiar agama dan sunnah Rasulullah saw yang mulia.


loading...

Taufiq